Dialog Senja: Dari Kamali Menatap Murhum
Berdiri di pesisir Pantai Kamali, Anda akan disuguhi pemandangan yang mendefinisikan jati diri Kota Baubau sebagai pusat maritim masa lalu. Dari titik ini, Pelabuhan Murhum tampak gagah di sisi kiri, menjadi magnet visual yang tak pernah sepi. Kapal-kapal putih besar milik PELNI seringkali terlihat bersandar seperti raksasa yang sedang beristirahat, kontras dengan perahu-perahu nelayan kecil yang melintas tenang di depannya. Jaraknya yang dekat membuat aktivitas bongkar muat dan hiruk pikuk pelabuhan terasa seperti sebuah pertunjukan teater kehidupan yang bisa dinikmati sambil duduk santai di pinggir pantai.
Keindahan panorama ini mencapai puncaknya saat lampu-lampu pelabuhan mulai menyala di kala maghrib. Cahaya keemasan dari area dermaga memantul di permukaan laut Selat Buton yang teduh, menciptakan jalan cahaya yang menghubungkan Pantai Kamali dengan Pelabuhan Murhum. Di bawah kaki patung Kepala Naga yang menjadi ikon pantai ini, pemandangan pelabuhan terlihat kian dramatis dengan latar belakang perbukitan hijau yang perlahan menggelap, menciptakan suasana yang intim sekaligus megah bagi setiap pengunjung yang datang mencari ketenangan.
Satu fakta menarik yang membuat pemandangan ini begitu istimewa adalah arus laut Selat Buton yang terlihat jelas dari kejauhan, seolah-olah airnya memiliki nyawa tersendiri. Dari Pantai Kamali, kita bisa menyaksikan bagaimana Pelabuhan Murhum menjadi saksi bisu sejarah panjang Kesultanan Buton yang menyambut tamu-tamu dari berbagai penjuru dunia sejak berabad-abad lalu. Menatap pelabuhan ini bukan sekadar melihat infrastruktur beton, melainkan memandang pintu masuk menuju peradaban yang kaya akan tradisi dan keramahan masyarakat Buton.
































